UNIFA Laksanakan PKM Pengolahan Limbah Kayu di Kabupaten Soppeng

Tim Dosen Universitas Fajar menggelar pengabdian masyarakat di Desa Pesse Kecamatan Donri-donri Kabupaten Soppeng yang dilaksanakan pada tanggal 03 Agustus 2019. Kegiatan ini merupakan hibah pengabdian masyarakat Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Kementerian RISTEKDIKTI yang dilaksanakan di salah satu UMKM Mebel milik Ambo Dalle di Desa Pesse).

Kabupaten Soppeng salah satu penghasil kayu di sulawesi selatan. Potensi kayu menjadi produk andalan bidang kerajinan khususnya di daerah sekitar (Bone, Sinjai, Wajo, Bone dan Sidrap). Potensi lokal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh UMKM di Kabupaten Soppeng. Pengolahan banyak diolah menjadi berbagai macam hasil kerajinan yang selama ini paling banyak diminati adalah. Kayu merupakan hasil kerajinan yang biasa banyak dicari ini dikarenakan tingginya angka pembangunan rumah dan kerajinan kayu sebagai bahan baku. Populasi usaha pemotong kayu pun semakin berkembang beriringan dengan semakin banyaknya usaha usaha kreatif dari pengolahan kayu sebagai bahan baku.

Salah satu usaha kayu yang banyak di jumpai saat ini adalah usaha somel kayu. Usaha ini bergerak dibidang jasa pemotongan kayu. Produk yang di hasilkan yaitu bahan baku kayu dalam pembuatan kusen, pintu, mebel dll. Perkebangan usaha ini sangat pesat karena permintaan pasar terhadap hasil usaha ini tidak akan pernah sepi. Dengan banyaknya permintaan pasar terhadap kayu, semakin banyak pengrajin kayu baru bermunculan. Dari hasil wawancara dengan mitra yaitu usaha “Ambo Dallle” di Jalan poros Batu-batu Kabupaten Soppeng (awal Maret 2018) diperoleh kesimpulan bahwa usaha ini pun semakin menjanjikan karena adanya jaminan kontinuitas bahan baku yang digunakan karena sifatnya yang memanfaatkan potensi lokal. Namun seiring dengan berjalannya usaha ini terdapat masalah yang yang sering disepelekan namun sangat penting untuk di carikan solusinya yaitu tidak adanya pengolahan limbah yang dapat bernilai ekonomis dari usaha pemotongan kayu tersebut. Limbah kayu biasanya hanya dijadikan kayu bakar dan bahkan limbah tersebut hanya hancur termakan rayap. Fakta di lapangan menunjukkan masih terdapat faktor penyebab tidak adanya pengolahan limba yang dilakukan oleh mitra yaitu tidak adanya pengetahuan mitra dalam pengolahan limbah yang dapat bernilai ekonomis dan tidak adanya teknologi dalam pengolahan limbah tersebut.

Proses pemotongan kayu yang dilakukan selama ini hanya mengandalkan tenaga manusia, sehingga ketika pesanan meningkat seperti saat ini, maka para pengrajin akan kewalahan dan mengi kesulitan. Proses pemotongan yang harusnya dapat dilakukan dalam waktu yang relative singkat, yaitu 1 jam untuk bahan kayu menjadi jauh lebih lama, yaitu 3-4 jam pada saat pesanan meningkat. Akibatnya, penyediaan pesanan d jumlah besar yang diterimanya, seringkali “molor” dari tenggat waktu yang dijanjikan. Hal ini tentu saja akan sangat membahayakan kredibilitas usaha para pengrajin ini, yang dapat saja berujung pada hilangnya kepercayaan dari para konsumen. Hal ini disebabkan karena masih tradisionalnya teknologi pemotongan yang selama ini digunakan, yaitu dengan masih menggunakan tenaga manualTahapan pemotongan, tahapan utama dalam proses produksi pemamfaatan limbah kayu menjadi bahan pembuatan plafon, Oleh karena itu, untuk semakin memperkuat eksistensi mitra ke depannya, diperlukan adanya perbaikan teknologi produksi, terutama pada tahapan pemotongan dan pembentukan kayu , melalui introduksi mesin pemotongan kayu.

Dengan adanya introduksi mesin tersebut di atas, diharapkan ke depannya kapasitas dan kualitas produksi kayu mitra dapat meningkat, yang secara otomatis juga akan menambah penghasilan dan kesejahteraan dari semua orang yang terlibat di dalamnya.
Pengembangan pemasaran juga dilakukan melalui upaya pembenahan bentuk , dengan desain yang menarik. Pengelolaan usaha yang masih menggunakan metode kekeluargaan, tanpa adanya manajemen yang baku. Pengelolaan keuangan dilaksanakan atas dasar saling percaya di antara anggota keluarga. Hal ini tentu memiliki potensi bagi munculnya banyak penyimpangan, yangdikhawatirkan akan “menggerogoti” usaha dari dalam (internal). Oleh karena itu,melalui kegiatan PKM ini, juga akan dilakukan upaya peningkatan kualitas manajemen usaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *