Breaking News
Tulis & Tekan Enter
Logo

Maraknya Demonstrasi Mahasiswa Teknik Kimia Unifa Angkat Bicara Tentang Bahaya Gas Air Mata

 Mahasiswa Teknik Kimia Universitas Fajar angkat bicara mengulas gas air mata, Selvi Ayu Lestari mahasiswa semester lima ini mengulas dengan disiplin ilmu dan merangkum berbagai teori

“Saat ini lagi panas dan hebohnya demo yang digelar serentak oleh Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia,” tutur mahasiswi teknik kimia itu

Ia menambahkan bahwa dimana ada demo yang anarkis disitu pula ada gas air mata, jadi sedikit tentang gas air mata. Gas air mata adalah istilah untuk menyebut gas kimia yang biasanya digunakan untuk melumpuhkan penyebab iritasi pada mata atau sistem pernapasan.

“Gas air mata biasa disebut lacrimator, yaitu salah satu dari kelompok zat yang mengiritasi selaput lendir mata, menyebabkan sensasi menyengat dan air mata,” imbuhnya

Lebih lanjut bahwa zat yang paling sering digunakan sebagai gas air mata adalah senyawa halogen organik sintetik dimana gas tersebut bukanlah gas sejati dalam kondisi biasa tetapi merupakan cairan atau padatan yang dapat dengan halus tersebar di udara melalui penggunaan semprotan, generator kabut granat dan lain-lain.

“Dua jenis gas air mata yang paling sering digunakan adalah Chloroacetophenone (CN) dan Chlorobenzylidenemalononitrile (CS),” sebutnya

Kepala Pusat Penelitian LIPI Agus Haryono menjelaskan bahwa gas air mata mengandung banyak bahan kimia dan yang paling banyak digunakan adalah Chlorobenzylidenemalononitrile (CS) .

“Chlorobenzylidenemalononitrile (CS) merupakan salah satu bahan yang mengaktifkan reseptor ditubuh dan berhubungan dengan rasa sakit, namun CS bukanlah satu-satunya yang digunakan dalam gas air mata,” ujarnya

Mahasiswi alumni SMAK Makassar juga menyebutkan adapun bahan kimia lain yang biasa digunakan yaitu Chloroacetophenone (CN), Bromoaseton, Benzil bromida, Etil bromoasetat, xylyl bromide, α-bromobenzyl sianida, semprotan merica atau minyak cabe dan banyak lagi

“CN adalah komponen utama dari agen aerosol mace sangat berpengaruh terutama pada mata, dan CS adalah iritan yang lebih kuat menyebabkan sensasi terbakar di saluran pernapasan dan menutup mata secara tak disengaja, efeknya akan hilang setelah 5-10 menit menghirup udara segar,” pungkasnya

Dari teori yang ia rangkum menyebutkan seorang analis, Neil Gibson mengatakan gejala biasanya dimulai dari 20-30 detik setelah terpapar gas dan mereda sekitar 10 menit atau setelah beberapa saat pada ruang yang berudara segar. Selain itu Steve Wright dari Leeds Metropolitan University mengatakan paparan berulang atau berkepanjangan terhadap gas air mata bisa berbahaya dan akibatkan luka

“Tabung gas air mata bekerja seperti granat tangan dengan cara ditarik dan memicu pengapian yang mengirim bahan kimia ke udara,” jelas Selvi

Mahasiswi pengurus Himpunan Mahasiswa Teknik Kima (HMTK) inipun mengutarakan Penelitian Dokter Leoncio Queiroz Neto seorang ophthalmologist Brazil ungkap fakta penggunaan gas air mata sangat berbahaya bagi mata, pernapasan dan kesehatan, selain itu reaksi mata ketika terkena gas air mata adalah bertahan (defensuf), lalu terjadi rasa seperti terbakar, mata berair, memerah dan kornea melebar sehingga penglihatan jadi kabur, sedangkan reaksi alami dari orang yan terkena gas air mata adalah menempelkan atau mengusap tangan ke mata

Berdasarkan hal itu iapun mengatakan bahwa menempelkan atau mengusap tangan ke mata justru memperburuk efek yang ditimbulkan oleh gas air mata, menyebarkannya sehingga penetrasi lebih jauh, dan akan tambah parah jika menggunakan kain untuk diusapkan ke bagian mata atau wajah, karena kain yang diresapi gas air mata akan mempercepat penguapan zat-zat kandungan gas

Selain mengulas seputar gas air mata mahasiswi inipun menjelaskan sedikit langkah pertolongan pertama saat terpapar gas air mata yakni dari laman Internasional News Safety Institute menuliskan jika pada saat mengalami paparan gas air mata ialah menggunakan topeng gas, kacamata pelindung serta masker.

“Jika tak memiliki beberapa perlengkapan tersebut, pergi ke area yang jauh dari paparan gas air mata dan usahakan ke daerah lebih tinggi karena gas air mata memiliki massa lebih berat dibanding udara,” sarannya

Mahasiswi asal kabupaten Sinjai ini berdasarkan Neil Gibson analis kesehatan dari IHS Jane bahwa menuangkan susu di wajah dapat mengurangi dampak gas air mata.

“Susu memiliki manfaat untuk menurunkan kadar rasa panas dan perih,” tutup Selvi

Dalam penyampaiannya bahwa ini hanya sedikit dari apa yang saya pelajari dan saya ketahui, jadi ketika ada kekurangan ataupun keselahan maka mari saling berbagi.

Penulis : Arman Bassara



70 Komentar

Tinggalkan Komentar